Hubungan Pembiasan Cahaya dengan Proses Terjadinya Pelangi

Hubungan Pembiasan Cahaya dengan Proses Terjadinya Pelangi

Proses Terjadinya Pelangi – Hallo sahabat, pada kesempatan kali ini kita akan membahas kaitan pembiasan cahaya dengan proses terjadinya pelangi. Seperti apa ya proses terjadinya salah satu fenomena alam yang pernah kalian jumpai, yaitu pelangi. Yuk kita simak baik-baik artikelnya.

Pelangi pelangi
Alangkah indahmu
Merah kuning hijau
Di langit yang biru
Pelukismu agung
Siapa gerangan
Pelangi pelangi
Ciptaan Tuhan

Siapa disini yang bacanya sambil nyanyi? Hayoo ngaku!

Kalian disini sudah pasti pernah melihat pelangi kan?

Ya, sama dengan lirik lagu di atas, bahwa pelangi terdiri dari beberapa jeniswarna. Ada warna merah, warna kuning, dan juga ada warna hijau.

Nah, macam macam warna itulah yang membuat pelangi menjadi indah sekali bila dipandang. Keren banget, ya ciptaan Tuhan?

Oleh karena itu, jangan lupa bersyukur ya akan kebesaran Tuhan dengan segala kuasanya.

Tapi kalian tahu tidak sih sahabat, bagaimana proses terjadinya pelangi?

Nah, pada artikel inilah akan kita bahas secara detail penyebab terjadinya pelangi.

Kalian tahu tidak sahabat, kalau salah satu fenomena alam ini yaitu pelangi terjadi karena ada peristiwa pembiasan cahaya lho!

Wah ada yang tahu tidak ya apa pembiasan cahaya itu? Oke kalau begitu, mari kita langsung belajar kaitan pembiasan cahaya dengan proses terjadinya pelangi.

Yuk kita simak pembahasannya pada artikel berikut ini!

Pembiasan Cahaya

proses terjadinya pelangi

Sebelumnya, kalian mungkin pernah mendengar bahwa salah satu sifat cahaya adalah bisa dipantulkan dan pemantulan cahaya ini ada beberapa macam sahabat.

Ternyata nih sahabat, selain cahaya dapat dipantulkan, cahaya juga bisa dibelokkan. Nah, pembelokan cahaya inilah yang sering disebut dengan pembiasan cahaya.

Definisi pembiasan cahaya adalah peristiwa pembelokan arah rambat cahaya akibat melewati dua medium dengan kerapatan optik yang berbeda. Contohnya yang satu melewati medium air dan satunya lagi melewati medium udara, dua medium ini memiliki tingkat kerapatan optic yang berbeda, sehingga pembiasan cahaya akan terjadi.

Hukum Pembiasan Cahaya (Hukum Snellius)

proses terjadinya pelangi

Hukum I

“Sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu bidang datar”

Hukum II

“Cahaya yang datang dari medium yang kurang rapat menuju medium yang lebih rapat akan dibiaskan mendekati garis normal.
Sebaliknya, jika cahaya datang dari medium lebih rapat menuju medium yang kurang rapat akan dibiaskan menjauhi garis normal”

Sahabat ada yang tahu tidak maksudnya bagaimana?

Oke, jadi begini sahabat! Coba kalian perhatikan gambar diatas.

Nah, pada gambar tersebut cahaya akan melewati dua medium dengan tingkat kerapatan yang berbeda yaitu melalui udara dan air.

Udara memiliki susunan partikel yang lebih renggang, sehingga molekul dapat bergerak dengan bebas. Lain halnya dengan air, air yang memiliki susunan partikel lebih padat. Sehingga molekulnya tidak mudah bergerak dengan bebas.

Untuk itu, udara memiliki kerapatan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kerapatan air.

Besar dari kerapatan optik suatu medium berhubungan dengan indeks bias. Semakin besar indeks bias suatu medium, maka semakin besar pula kerapatan optik suatu medium. Akibatnya, cahaya yang melewati medium dengan indeks bias besar (tingkat kerapatan besar) maka memiliki arah belok yang semakin besar juga. Kecil dan besar dari arah belok suatu cahaya, dapat diukur dari bidang batas antara dua medium.

Lalu, bagaimana dengan suatu medium yang memiliki kerapatan optik kecil seperti udara? Nah, hal ini maka berlaku kebalikannya. Yaitu medium yang kerapatan optiknya kecil, maka indeks bias medium juga kecil. Akibatnya cahaya yang melewati medium tersebut memiliki arah belok yang semakin kecil dari bidang batas antara dua medium.

Proses Pembiasan Cahaya

proses terjadinya pelangi

Gimana sahabat, apa sudah ada gambaran? Apa sahabat sudah paham? Kalau masih belum paham tentang pembiasan cahaya, coba kalian perhatikan gambar di bawah ini.

Indeks bias adalah perbandingan antara kecepatan cahaya di ruang hampa udara dengan kecepatan cahaya di medium tersebut.

Ketika cahaya dibiaskan dari udara ke air (seperti pada gambar A), maka cahaya akan merambat dari medium yang kurang rapat menuju medium yang rapat.

Air memiliki indeks bias yang lebih besar dibandingkan udara (n2 > n1), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium juga besar. Karena itu, cahaya mampu dibiaskan atau dibelokkan mendekati garis normal.

Sebaliknya, jika cahaya dibiaskan dari air menuju udara (seperti pada gambar B), maka cahaya akan merambat dari medium yang rapat menuju medium yang kurang rapat.

Udara mempunyai indeks yang lebih kecil jika dibandingkan dengan air (n1 < n2), sehingga arah belok cahaya dari bidang batas dua medium lebih kecil. Karena itu, cahaya akan dibiaskan atau dibelokan menjauhi garis normal.

Sudah lihat perbedaannya di gambar kan sahabat?
Oh iya, kalian masih ingat tidak? Di awal tadi, kalian sempat bertanya bagaimana proses terjadinya pelangi?

Tadi juga sudah disampaikan bahwa proses terjadinya pelangi karena ada pembiasan cahaya. Lalu kenapa pelangi warna warni? Sedangkan pada pembahasan awal tidak ada penjelasan bahwa cahaya yang dibelokkan menimbulkan macam macam warna seperi warna merah, warna hijau, warna kuning dan warna biru. Ada yang tahu kenapa pelangi warna warni?

Proses Terjadinya Pelangi

proses terjadinya pelangi

Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, bahwa salah satu sifat cahaya yaitu dapat diuraikan. Ada yang tahu tidak maksud cahaya diuraikan?

Jadi begini sahabat, cahaya putih yang seringkali kita lihat ternyata tersusun dari bermacam macam warna dan warna warna tersebut dapat diuraikan atau dipecah-pecah. Karena hal inilah, cahaya putih disebut sebagai cahaya polikromatik, contohnya sinar matahari.

Warna dalam cahaya putih, ternyata banyak sekali lho! Ada merah, kuning, hijau, biru, nila, jingga dan ungu. Biasanya kita menyebutnya dengan nama mejikuhibiniu. Sama dengan warna pelangi kan sahabat?

Nah, penguraian cahaya putih menjadi bermacam-macam warna disebut dengan dispersi. Dispersi terjadi akibat perbedaan indeks bias pada setiap cahaya, sehingga ketika suatu cahaya dibiaskan pada suatu medium, cahaya akan mengeluarkan berbagai macam warna seperti warna pelangi.

Dispersi selain terjadi ketika cahaya dibiaskan, juga dapat terjadi ketika cahaya matahari mengenai tetes air hujan. Awalnya, cahaya matahari mengalami pembiasan oleh tetesan air hujan.

Selanjutnya, warna putih pada cahaya matahari diuraikan menjadi berbagai warna indah di langit yang selama ini kita sebut dengan pelangi.

Perlu kalian ketahui, bahwa pelangi tidak selalu dapat kita lihat ketika turun saja lho sahabat. Alasannya ada yang tahu tidak ya? Alasannya adalah karena posisi ketika kita berdiri, menjadi salah satu faktor kita bisa atau tidak bisa melihat pelangi.

Agar kita dapat melihat pelangi dengan jelas ketika hujan, maka kita harus membelakangi matahari. Posisi matahari juga tidak boleh tinggi. Apabila terlalu tinggi, maka kita tidak akan bisa melihat pelangi sama sekali. Untuk itu, kemungkinan besar pelangi terlihat yaitu ketika turun hujan di pagi atau sore hari.

Pelangi sebenarnya bentuknya bulat utuh lho sahabat! Faktanya, pelangi memiliki bentuk bulat yang utuh. Manusia melihat bentuk pelangi seperti busur karena keterbatasan mata ketika memandang pelangi. Karena posisi manusia ketika memandang pelangi yang berada diatas dataran rendah, sehingga kita tidak dapat melihat pembiasan cahaya yang terjadi di setengah lingkaran lain.

Nah, gimana sahabat? Sudah mulai paham kan kaitan pembiasan cahaya dengan proses terbentuknya pelangi?

Semoga artikel diatas bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan sahabat tentang pelangi.

Sekian dari saya, terima kasih.

Leave a Comment